bacalah dengan kesungguhan hati

ini duniaku, ini mimpiku dan ini anganku

Perjalanan Terakhir Menuju Bintang Senja


Bekasi – 1 November 2009
Pagi-pagi buta tanpa sadar saya terbangun dari tidur yang kurang lebih selama 4 jam. Sesegera saya mencuci muka dan mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat Shubuh. Tepat pukul 5.15am saya keluar rumah, ternyata teman saya sudah menunggu sambil duduk-duduk. Saya sapa dan menanyakan apakah teman saya yang satu lagi sudah keluar rumah, ternyata di jawab olehnya yaitu belum keluar. Serentak kami menghampiri rumahnya dan memanggil-manggil namanya. Tak lama dia keluar.
Setelah semuanya berkumpul, kami bertiga yang berencana akan lari pagi di Duta telah mempersiapkan diri masing-masing. Diantara kami bertiga hanya saya yang tidak memakai sepatu dikarenakan baru dicuci kemarin, jadi saya pakai sandal saja. Kami melesat ke Duta dengan menggunakan dua motor. Saya sendiri diboncengi oleh Nufus dan Ronal berada di motornya sendiri.
Sudah lama tak lari pagi di Duta, banyak perubahan dan yang paling jelas kini Duta ramai sekali. Duta adalah nama sebuah perumahan yaitu Duta Harapan yang posisinya dekat dengan perumahan saya yakni Taman Wisma Asri. Terdapat danau tidak begitu besar yang dikelilingi taman-taman tak terawat lagi. Sampah-sampah bececaran dimana-mana tapi masih rimbun dengan beraneka ragam pohon-pohon. Saya dan Nufus lari terlebih dahulu sebab Ronal sedang tak ingin berlari, ia terlalu memperhatikan motornya agar tak hilang.
Akhirnya Ronal ingin berlari, jadi lengkaplah sudah kami bertiga. Walau saya berlari hanya dua putaran danau sudah sangat melelahkan sekali. Hal ini dikarenakan bukannya kami lari pagi melainkan kami melakukan balap lari… (haha, cape banget deh).
Bosan berlari, kami pun berbincang-bincang masalah yang ringan. Entah kenapa terlintas diantara ucapan kami untuk berjalan-jalan ke Marakas, Pondok Ungu Permai. Kami pun sepakat untuk pergi kesana. Marakas sama halnya seperti Duta, ditempuh sekitar 15 menit dengan motor dalam keadaan santai. Tapi bedanya di Marakas untuk kendaraan bermotor dikenakan biaya masuk. Jadi kami hanya melewati saja dan melihat keramaian orang-orang yang sedang menikmati kenyamanannya.
Ban motor terus berputar mengantarkan kami ke Harapan Indah. Sebelum sampai Harapan Indah kami kehilangan Ronal. Hal ini dikarenakan ia tepat berada di depan kami yang terhalangi mobil. Ketika Nufus menyalip mobil itu, tiba-tiba ia menghilang. Sungguh membingungkan… Karena tujuan kami adalah Harapan Indah, maka saya dan Nufus bergegas kesana berharap dapat menemukannya. Alhasil disana tak dapat ditemukan juga, saya berdua balik arah pelan-pelan sambil mencari-cari sosoknya.
”Tak dapat ditemukan juga, kita mampir ke Alfamart sebentar”, ucap Nufus yang terlihat santai.
”Boleh juga”, saya jawab dengan tenang.
Nufus keluar dengan membawa roti berukuran besar dan dua kemasan susu bermerk terkenal. Kami menghabiskannya dengan lahap sebab kami memang belum sarapan dari pagi. Setelah itu kami sepakat untuk pulang saja dan berharap Ronal sudah tiba di rumahnya.
Dari kejauhan terlihat motornya.
”Sudah diduga, dia pasti pulang dahulu”, saya berkata.
Ronal pun menceritakannya. ”Gw pikir lu ada didepan. Jadi gw ngebut aja. Eh, ternyata ada dibelakang”, sambil tertawa.
Tapat pukul 08.00am, kami mengantarkan Ronal ke bengkel resmi untuk servis gratis. Hal ini dikarenakan, Ronal baru beli motor dan mendapatkan jatah empat kali servis gratis. Ternyata di bengkel sudah banyak yang mengantri. Kira-kira satu jam menunggu, saya dan Nufus beralasan ingin jalan-jalan sebentar. Eh, ternyata motornya Nufus masuk ke tempat pencucian motor untuk dimandikan. Setengah jam selesai juga dan kembali ke bengkel tempat Ronal berada. Ternyata Ronal mendapat urutan ke-25 padahal motor yang sedang dikerjakan baru memasuki urutan ke-16. Jam 10.00am saya dan Nufus pulang dengan meninggalkan Ronal di bengkel sendirian. Di rumah, saya langsung mandi dan makan. Dilanjutkan dengan menstrika pakaian yang bertumpuk hingga selesai.
Setelah selesai sholat Dzuhur, saya merapikan diri untuk pergi ke rumah Nuryani. Sungguh kangen sekali dengan Nur, saya berpikir kalau tidak sekarang terus kapan lagi. Sebab minggu kemarin rasa malu mengalahkan rindu ini. Jam 12.30pm saya berangkat ke rumah Nur yang berada di depan rumah sakit Pluit. Cuaca sungguh panas untuk menggunakan kendaraan bermotor tapi beruntung tidak macet.
Setelah sampai di tikungan tepat rumah Nur berada, saya agak lupa rumahnya dan berjalan perlahan-lahan. Saya melihat rumahnya tapi kenapa motor saya terus berjalan perlahan-lahan kedepan. Saya balik arah dan langsung masuk ke halaman rumah Nur. Seperti biasa rumahnya begitu ramai hingga saya jadi malu sendiri. Turun dari motor dan mengucapkan salam dan bersalaman satu persatu.
”Abis dari mana?” tanya Nur
”Dari belakang ke depan”, jawab saya sambil tertawa. Padahal dari rumah, hehe…
Di dalam rumah kami berbincang-bincang saja. Untungnya tidak di intograsi, haha… Saya di tawari makan oleh Nur, sebenarnya sudah kenyang tapi tiba-tiba saja hidangan tersedia. Nasi dengan ikan lele goreng plus sambalnya disertakan sayur lodeh yang isinya telur bulat dan sepotong tahu besar. Mantab dan kenyang banget. Tapi si Nur hanya melihat saya makan dengan alasan lagi malas makan.
”Makannya seperti putri Solo”, katanya.
Ketika waktu Ashar tiba, saya disuruh melaksanakan sholat.
”Nanti saja, tunggu adzannya selesai”, saya menjawab.
”Emangnya harus nunggu adzan selesai?”, katanya
”Ga juga sih, Nur sendiri ga sholat? Lagi malas ya?
”Siapa yang malas? Orang lagi datang…”
”Bilang saja malas”, saya memotong perkataannya yang terakhir.
Sambil mengulurkan tangannya dengan maksud janji. Saya diam saja dan mengabaikannya sebab saya percaya dengannya.
Ketika selesai wudhu, saya melewati kamarnya dan ternyata Nur berada di depan pintu bermaksud menghalangi saya untuk melihat isi kamarnya. Saya sempat melihat sekilas (sama saja seperti kamar saya yang berantakan, hehe…). Dan ketika saya sholat pun ternyata masih dilihati. Jadi malu… Oh ya, saya sholat di ruang tamunya.
Pukul 04.00pm saya coba tanya Nur, apakah Citra ada dirumahnya sebab saya ingin mampir kesana.
Nur mencoba meneleponnya dan dia pun mengobrol sebentar. Nur memberikan handphone-nya kepada saya untuk berbicara dengan Citra.
”Assalamualaikum”, saya membuka pembicaraan ditelepon.
Lalu dijawab, ”Walaikumsalam, oh ternyata honey, bunny, swetty… Udah maju nih perkembangannya. Sudah berani sendirian nih ceritanya.”
”Hehe… Oh ya, ada dirumah ga sekalian main nih?”, tanya saya.
”Ada ko, nih lagi makan.”
”Ya udah entar saya kesana”
Saya serahkan kembali handphone-nya ke Nur dan dia pun bergosip dengan Citra sama seperti pertama kali Nur telepon Citra tadi.
Jam 05.00pm saya berpamitan dengan ibunya dan saya bersalaman dengan Nur, entah kapan saya ke sana lagi. Akhirnya sampai juga di rumah Citra yang terletak di Jembatan Tiga dengan waktu tempuh kurang dari 10 menit.
”Duh yang habis nge-date”, sambutannya ketika saya masuk kerumahnya.
”Udah ada keberanian nih, ga laporan dulu, ntar ga gw restui lho”, tambahnya.
”Masa harus laporan dahulu? Masa setiap kerumah Nur harus ajak Citra?, bantah saya.
Kami pun ngobrol panjang lebar sesekali adiknya bernama Tomy yang duduk di kelas 3 SMP menemani kami berdua. Kata Citra hari ini saya cerewet banget dan berbeda dari sebelumnya.

14/01/2010 - Posted by | sebuah cerita harian

3 Komentar »

  1. oya dirumah saya keluarga inti cuman 5 kok
    cuman rekan abah (ortu q)
    istirahatnya di rumah
    maklum lah
    oya yang itu bukan kamar q tapi kamar adik q tau
    kamar q paling menyendiri
    sumpah dech

    Komentar oleh nuryani | 14/01/2010 | Balas

    • yakin???
      menyendiri di lorong goa ya??

      Komentar oleh rahasiamawar | 19/01/2010 | Balas

  2. tempat istirahat terdekat dari kantor polsek penjaringan ya rumah q
    yah…
    mau diapain lagi
    masa di usir…
    pikir dech…

    Komentar oleh nuryani | 14/01/2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: